Pencarian

Modal Awal Rp50 Ribu, Kini Cinta Batik Semarang Tembus Pasar Global Berkat LinkUMKM BRI

Minggu, 14 Juni 2026 • 15:33:31 WIB
Modal Awal Rp50 Ribu, Kini Cinta Batik Semarang Tembus Pasar Global Berkat LinkUMKM BRI
Iin Windhi Indah memulai Cinta Batik Semarang dengan modal Rp50 ribu dan peralatan sederhana pada 2006.

SUMATERA UTARA — Berawal dari pelatihan membatik yang digelar Dekranasda Kota Semarang pada 2006, Iin Windhi Indah Tjahjani mulai merintis usaha Cinta Batik Semarang. Saat itu, modalnya hanya Rp50 ribu dengan peralatan seadanya. Berbagai kegagalan dalam proses produksi semat ia alami, namun Iin terus belajar dan aktif mengikuti pameran untuk mencari inspirasi.

Kelebihan utama produk ini terletak pada pewarna alami yang digunakan, menjadikannya batik ramah lingkungan. Di tengah persaingan industri batik, pendekatan ini menjadi nilai pembeda yang kuat. Koleksi batik yang diproduksi dalam jumlah terbatas juga memberi nilai eksklusif bagi pelanggan.

Bergabung dengan Ekosistem LinkUMKM BRI

Dalam proses pengembangan usahanya, Iin kemudian bergabung dengan ekosistem pendampingan digital BRI melalui LinkUMKM dan Rumah BUMN. "Mengenal LinkUMKM dari Rumah BUMN BRI, salah satu alasan yang membuat kita bergabung yaitu dikarenakan ada banyak kegiatan yang bermanfaat untuk kemajuan usaha kita," ujar Iin.

Platform LinkUMKM menyediakan enam fitur utama yang saling terintegrasi, yaitu UMKM Smart, Rumah BUMN, Media, Komunitas, Etalase Digital, Coaching Clinic, serta layanan registrasi NIB. Lebih dari 840 modul pembelajaran juga tersedia untuk meningkatkan soft skill dan hard skill pelaku usaha. Hingga akhir Maret 2026, platform ini telah dimanfaatkan oleh lebih dari 15,57 juta UMKM di seluruh Indonesia.

Dari Semarang ke Mancanegara

Untuk mendukung operasional, Cinta Batik Semarang juga memanfaatkan QRIS dan tabungan BRI. Produk-produknya kini dipasarkan melalui berbagai kanal, mulai dari penjualan offline, marketplace, pameran, hingga kerja sama business-to-business (B2B). Jangkauan pasarnya pun terus meluas, dari pembeli domestik hingga konsumen di luar negeri.

Corporate Secretary BRI Dhanny menilai perjalanan Cinta Batik Semarang menjadi contoh nyata bagaimana usaha yang dirintis dari keterbatasan tetap dapat tumbuh dan menembus pasar yang lebih luas. “Cinta Batik Semarang menunjukkan bahwa produk berbasis kearifan lokal dapat memiliki daya saing yang kuat ketika dikelola secara konsisten dan inovatif. Upaya menghadirkan batik ramah lingkungan sekaligus melestarikan warisan budaya menjadi contoh bagaimana UMKM dapat menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan,” pungkas Dhanny.

Kisah ini memperlihatkan bahwa penguatan UMKM bukan hanya soal akses pembiayaan, tetapi juga pendampingan, pembelajaran, dan kemampuan membaca peluang pasar. Dari usaha kecil bermodal terbatas, batik ramah lingkungan asal Semarang ini kini berhasil membawa identitas lokal hingga ke mancanegara.

Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks