JAKARTA — Uang pecahan Rp 100 ribu di dompet warga Ibu Kota pagi ini kembali kehilangan dayanya. Berdasarkan data pasar Investing.com pukul 09.11 WIB, rupiah terdepresiasi 0,64 persen ke posisi Rp17.609 per dolar Amerika Serikat. Angka ini menjadi yang terendah dalam beberapa pekan terakhir, menekan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang bergantung pada barang impor.
Penguatan dolar AS tidak terjadi tanpa sebab. Indeks Dolar AS tercatat naik 0,26 persen ke posisi 98,987 pada Kamis (14/5) waktu setempat. Para pedagang global meningkatkan taruhan mereka terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve setelah data inflasi dan penjualan ritel AS dirilis pekan ini.
Alat CME FedWatch menunjukkan ekspektasi kenaikan suku bunga hampir sepenuhnya pulih. Lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah ikut mendorong inflasi, membuat The Fed cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Suku bunga tinggi biasanya menarik investor ke dolar.
Pemerintah tidak tinggal diam. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pihaknya akan mengaktifkan instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) untuk meredam gejolak di pasar obligasi. Langkah ini bertujuan menjaga imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) agar tidak melonjak terlalu tajam.
"Gunakan Bond Stabilization Fund kan, tapi belum fund semuanya kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini. Besok mulai jalan," ujar Purbaya, Jumat (15/5).
Intervensi di pasar SBN ini akan mulai berjalan pada 13 Mei 2026. Menkeu menegaskan bahwa penanganan utama nilai tukar tetap menjadi wewenang Bank Indonesia. Kemenkeu hanya akan membantu secara bertahap melalui pasar obligasi.
Meski rupiah terdepresiasi, Purbaya meyakini keuangan negara tetap aman. Pemerintah telah menghitung simulasi efek kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah ke dalam APBN hingga akhir tahun. Namun, di lapangan, harga bahan pokok mulai merangkak naik di sejumlah pasar tradisional Jakarta dan sekitarnya.
Seorang pedagang sembako di Pasar Senen mengeluhkan harga minyak goreng dan tepung terigu yang terus berubah setiap pekan. "Kami jualannya ikut naik, tapi pembeli pada ngeluh. Uang Rp 50 ribu sekarang hampir nggak bisa beli apa-apa," ujarnya.
Pelaku pasar kini menunggu hasil kunjungan Presiden Donald Trump ke Tiongkok. Para pedagang berharap ada terobosan dalam perdagangan, kecerdasan buatan, dan kemungkinan perang melawan Iran. Jika tidak ada kesepakatan signifikan, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam pekan mendatang.
Sementara itu, Bank Indonesia diharapkan segera mengumumkan kebijakan moneter tambahan untuk menstabilkan rupiah. Intervensi langsung di pasar valas masih menjadi senjata utama yang belum sepenuhnya dikerahkan.