Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem memastikan Formula 1 bakal meninggalkan mesin hybrid V6 dan beralih ke unit daya V8 mulai musim 2030 atau 2031. Keputusan krusial ini diambil guna menjawab kritik pembalap terkait kerumitan teknologi mesin saat ini serta mengembalikan suara gahar yang dirindukan penggemar.
FIA resmi mengetok palu untuk membawa kembali mesin V8 ke lintasan Formula 1. Pengumuman besar ini disampaikan langsung oleh Mohammed Ben Sulayem di sela-sela Grand Prix Miami, Minggu (3/5/2026). Meski regulasi baru dijadwalkan berlaku penuh pada 2031, FIA membuka peluang percepatan satu tahun lebih awal jika mayoritas produsen mesin memberikan dukungan lewat pemungutan suara.
Langkah revolusioner ini muncul sebagai respons atas berbagai keluhan terhadap regulasi mesin hybrid 2026. Para pembalap merasa sistem pengisian baterai saat ini terlalu kompleks dan mengharuskan mereka melambat di area tertentu, termasuk tikungan cepat. Kondisi tersebut dinilai membahayakan keselamatan karena memicu perbedaan kecepatan yang signifikan antar mobil di lintasan.
Federasi ingin memangkas kerumitan teknis yang selama ini sulit dipahami penonton awam. Istilah teknis seperti superclipping hingga manajemen energi listrik yang rumit bakal diminimalisir dalam regulasi mendatang. Mesin V8 dipilih karena karakternya yang jauh lebih ringan dan sederhana dibandingkan unit daya yang digunakan sekarang.
FIA sempat mempertimbangkan kembalinya mesin V10, namun opsi tersebut dianggap kurang realistis untuk tantangan otomotif modern. V8 dinilai sebagai titik tengah terbaik untuk mempertahankan performa sekaligus menghadirkan kebisingan mesin yang menjadi identitas utama balap jet darat. Fokus pada penggunaan bahan bakar berkelanjutan tetap dipertahankan meski arsitektur mesin berubah total.
Saat ini, peta persaingan pemasok unit daya di Formula 1 melibatkan sejumlah raksasa otomotif lintas negara:
"Itu akan terjadi. Pada akhirnya, ini hanya masalah waktu," ujar Ben Sulayem saat menegaskan komitmen FIA terkait transisi ke mesin V8. Ia menekankan bahwa otoritas tertinggi otomotif dunia tersebut memiliki wewenang penuh untuk memberlakukan aturan ini tanpa harus bergantung pada persetujuan mutlak produsen untuk jadwal 2031.
"Misi kami adalah membuat Formula 1 menjadi lebih sederhana dibanding sekarang. Suara yang bagus, lebih sederhana, lebih ringan. V8 akan datang," tegasnya. Ben Sulayem optimistis perubahan ini akan meningkatkan daya tarik balapan bagi penonton baru maupun penggemar fanatik yang merindukan raungan mesin ikonik di sirkuit.
Kembalinya mesin V8 diprediksi akan mengubah peta persaingan tim papan atas seperti Mercedes, Ferrari, dan Red Bull. Transisi ini menandai berakhirnya era mesin hybrid rumit yang telah mendominasi grid selama lebih dari satu dekade. Kini, seluruh mata tertuju pada proses pemungutan suara produsen yang akan menentukan apakah raungan V8 sudah bisa dinikmati pada musim 2030.
Keputusan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Formula 1 mulai mendengarkan keresahan para aktor utama di lintasan demi menjaga sportivitas dan nilai hiburan balapan.