MEDAN — Analisis data NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS)-MODIS mencatat 45.103 deteksi hotspot di Indonesia pada 1 Januari hingga 30 Agustus 2026. Sumatera Utara termasuk wilayah dengan konsentrasi tertinggi dan masuk kategori rawan karhutla.
Lonjakan terjadi pada Agustus: 33.199 titik atau 73,6 persen dari total deteksi nasional. Angka ini menegaskan tekanan karhutla belum mereda, meski sebagian wilayah mulai memasuki masa peralihan musim.
Eskalasi Tajam dalam Tiga Bulan
Data menunjukkan peningkatan yang sangat cepat. Juni mencatat 1.526 hotspot, Juli naik menjadi 5.502 titik, dan Agustus melonjak drastis ke angka 33.199 titik. Pada 29 Agustus 2026 saja, satelit mendeteksi 4.318 titik panas dalam sehari.
Tren peningkatan masih berlanjut. Menurut Achmad Siddik Thoha, moving average tujuh hari hingga akhir Agustus belum menunjukkan tanda penurunan yang konsisten.
"Data hingga 30 Agustus belum menunjukkan penurunan yang konsisten. September sebaiknya diperlakukan sebagai jendela kritis, bukan periode untuk menunggu musim hujan," ujarnya dalam analisis yang diterima redaksi, Senin (31/8/2026).
Hotspot BukanLuas Kebakaran
Achmad mengingatkan agar jumlah hotspot tidak disamakan dengan luas area terbakar. Hotspot adalah anomali termal yang ditangkap sensor satelit, sehingga verifikasi lapangan diperlukan untuk memastikan penyebab dan dampaknya.
Kendati demikian, tingkat kepercayaan deteksi (confidence) menjadi pegangan awal. Dari total 45.103 hotspot, 12.298 titik memiliki confidence minimal 80 persen dan 6.761 titik di antaranya menembus confidence 90 persen.
Titik-titik berconfidence tinggi ini menurut Achmad layak diprioritaskan untuk pengecekan dan penanganan di lapangan.
Pencegahan Berbasis Risiko Lebih Efektif
Achmad mendesak pendekatan respons darurat yang dominan selama ini diimbangi pencegahan berbasis risiko. Langkahnya mencakup pemetaan wilayah rawan, deteksi dini via satelit, dan keterlibatan aktif masyarakat di tingkat tapak.
Pemerintah daerah perlu menyiapkan posko siaga dan memobilisasi sumber daya sebelum titik panas meningkat, bukan setelah kebakaran meluas. Koordinasi lintas instansi dan akses data real-time menjadi kunci agar langkah preventif berjalan efektif.
Artikel ini telah tayang di Teritorial24.com dengan judul asli "45 Ribu Hotspot Menjelang September, Peneliti USU Desak Pemerintah Perkuat Pencegahan Karhutla Berbasis Risiko".