SUMATERA UTARA — Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali mengungkapkan, program yang berjalan sejak 2024 ini telah mengolah Limbah Racik Uang Kertas (LRUK) menjadi energi melalui skema waste to energy (WtE) dan produk baru lewat waste to product (WtP). Inisiatif ini dinilai mampu menekan emisi karbon sekaligus memangkas biaya pengolahan limbah dibanding metode pembuangan konvensional.
"Rupiah bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga menjadi instrumen strategis yang menggerakkan perekonomian, menghadirkan kesejahteraan, serta menjaga persatuan dan kedaulatan NKRI," ujarnya di Jakarta, Jumat (14/8).
Pengakuan Internasional dan Upaya Perpanjang Masa Edar Uang
Upaya BI mengolah limbah uang kertas mendapat pengakuan global. Bank sentral meraih penghargaan Best New Environmental Sustainability Project dari International Association of Currency Affairs (IACA), asosiasi yang menaungi 77 bank sentral dan pelaku industri bahan uang dunia.
Program bernama Rupiah Waste to Worth Collaboration ini dinilai unggul dalam kolaborasi lintas pemangku kepentingan, kepemimpinan kelembagaan, dan implementasi nyata WtE/WtP. Di sisi hulu, BI juga menerapkan lapisan pelindung atau coating pada uang kertas emisi 2022 agar lebih tahan lama selama beredar di masyarakat.
Uang Kartal Tetap Dibutuhkan di Tengah Digitalisasi
Di tengah gencarnya transaksi digital, BI menegaskan uang tunai tidak akan hilang. Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Anwar Bashori menyebut keduanya bersifat komplementer, bukan substitusi.
"Digitalisasi dan uang tunai bukanlah saling menggantikan, tapi komplementer, saling melengkapi," kata Anwar.
Data internal BI menunjukkan uang tunai masih menyumbang sekitar 20 persen dari total uang beredar. Lebih dari separuh penduduk Indonesia masih mengandalkan transaksi tunai, terutama di wilayah yang belum terjangkau infrastruktur digital. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau dan tingkat literasi digital yang beragam menjadi pertimbangan utama.
FERBI 2026 Jadi Ajang Edukasi dan Dialog Industri
Dalam FERBI 2026 yang berlangsung pada 14-16 Agustus di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, BI memperkenalkan BRIDGE—forum dialog yang mempertemukan bank sentral, pelaku industri pengelolaan uang, serta ahli dari dalam dan luar negeri. Forum ini membahas desain uang, strategi pemberantasan uang palsu, hingga modernisasi infrastruktur pengelolaan uang.
Rangkaian talkshow dan pameran dalam festival ini mengangkat tema perjalanan rupiah dalam mendukung kedaulatan bangsa serta penerapan manajemen uang ramah lingkungan. BI mengajak masyarakat untuk merawat rupiah, bangga menggunakannya sebagai simbol kedaulatan, dan memahami penggunaannya secara bijak.
Ricky menambahkan, pengelolaan rupiah mencakup seluruh siklus uang—dari perencanaan, pencetakan, pengeluaran, hingga pencabutan dan pemusnahan—sesuai UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. "Yang pasti, menjaga rupiah bukan hanya tugas Bank Indonesia. Ini adalah kerja bersama untuk menjaga kepercayaan, persatuan, dan kedaulatan Indonesia," tegasnya.