SUMATERA UTARA — Peringatan dini itu terbit kurang dari lima menit setelah gempa utama mengguncang, dan statusnya baru dicabut setelah dua jam pengamatan muka air laut. Di wilayah NTT, tinggi tsunami terpantau mencapai 0,9 meter, sementara di pesisir Sulawesi Selatan angkanya bervariasi antara 0,4 hingga 0,7 meter.
Delapan Daerah Masuk Zona Peringatan Dini
BMKG menetapkan status waspada untuk delapan kabupaten/kota yang tersebar di dua provinsi. Wilayah itu meliputi pesisir utara dan selatan Flores, sebagian pantai barat Sulawesi Selatan, hingga kepulauan kecil di sekitar episentrum.
Masyarakat di zona tersebut diinstruksikan menjauhi bibir pantai dan tidak melakukan aktivitas di sekitar muara sungai. Pihak berwenang setempat juga mengaktifkan sirine peringatan sebagai langkah evakuasi mandiri.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengatakan potensi susulan masih perlu diwaspadai meski status peringatan telah diturunkan. "Masyarakat diminta tetap tenang namun waspada terhadap kemungkinan gempa bumi susulan yang berkekuatan lebih kecil," ujarnya dalam konferensi pers daring.
Dampak di Lapangan: Bangunan Rusak dan Warga Mengungsi
Di Kabupaten Nagekeo, getaran dirasakan sangat kuat selama kurang lebih lima detik. Sejumlah rumah warga dilaporkan mengalami retak di bagian dinding, sementara beberapa fasilitas publik seperti puskesmas pembantu turut rusak ringan.
Di pesisir Sulawesi Selatan, gelombang yang masuk ke daratan menyebabkan air laut naik hingga membanjiri jalan utama di kawasan wisata. Belum ada laporan korban jiwa, namun ratusan warga di Kecamatan Bontosikuyu dan sekitarnya sempat mengungsi ke dataran tinggi.
Data sementara BPBD mencatat puluhan rumah terendam lumpur dan satu dermaga perahu nelayan di pesisir barat Sulawesi Selatan ambruk dihantam arus. Kerugian material masih dalam proses pendataan lebih lanjut.
Mekanisme Peringatan dan Respons Cepat
BMKG menggunakan data dari sensor pasang surut dan sistem buoy untuk memverifikasi kenaikan muka air laut secara real-time. Proses verifikasi ini menjadi kunci untuk memutuskan apakah peringatan dini perlu dinaikkan atau dicabut.
Proses evakuasi di lapangan berjalan relatif cepat karena sebagian besar warga telah mengikuti simulasi kebencanaan yang digelar rutin oleh BPBD setempat. Jalur evakuasi menuju bukit di belakang permukiman menjadi rute utama yang digunakan warga saat sirine berbunyi.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri masih melakukan penyisiran di pesisir untuk memastikan tidak ada warga yang terjebak. Mereka juga mendistribusikan logistik darurat bagi warga yang mengungsi di tenda-tenda pengungsian.