Pencarian

Harga Pangan Naik, Ini Cara Atur Belanja agar Dompet Tak Jebol

Sabtu, 10 Oktober 2026 • 09:04:31 WIB
Harga Pangan Naik, Ini Cara Atur Belanja agar Dompet Tak Jebol
Perencana keuangan menyarankan rumah tangga menyusun skala prioritas belanja pangan sejak awal.

SUMATERA UTARA — Perencana Keuangan Andy Nugroho menyarankan rumah tangga menyusun skala prioritas dan menyisihkan dana belanja pangan sejak awal, bukan mengandalkan penghematan spontan saat harga bahan pokok menanjak. Tanpa strategi belanja yang terencana, pengeluaran makan harian berisiko menggerus anggaran cicilan, listrik, dan biaya pendidikan anak.

Kenaikan harga bahan pokok memaksa rumah tangga mengatur ulang cara berbelanja. Masalahnya, banyak yang baru bereaksi setelah dompet menipis, bukan sebelum uang keluar. Andy menilai pengaturan anggaran sebelum berbelanja jadi kunci agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi tanpa mengganggu pos pengeluaran lain.

Skala Prioritas Jadi Langkah Pertama

Sebelum menyentuh rak pasar atau aplikasi belanja, Andy meminta rumah tangga memetakan pengeluaran berdasarkan tingkat kewajibannya. Caranya, pisahkan mana yang wajib dan mendesak dari yang masih bisa ditunda.

"Seseorang harus memprioritaskan pengeluaran yang bersifat penting dan wajib seperti bayak cicilan, beli token, biaya SPP anak, dan yang lainnya. Kedua, pengeluaran yang penting namun masih bisa di atur pengeluarannya seperti makan sehari-hari dan transportasi," ujar Andy kepada CNNIndonesia.com.

Dari pemetaan itu, barulah terlihat berapa dana yang realistis dialokasikan untuk belanja pangan. Jika tujuan awalnya memang belanja bahan makanan, Andy menyarankan dana disisihkan sejak awal, bukan diambil dari sisa uang di akhir bulan.

Pemisahan anggaran ini membuat pengeluaran makan lebih terkontrol. Dana pun disesuaikan dengan kemampuan keuangan setelah kewajiban utama ditunaikan, sehingga belanja pangan tidak menghabiskan jatah untuk cicilan, tagihan listrik, atau biaya pendidikan anak.

Belanja Banyak Belum Tentu Lebih Hemat

Memborong bahan pangan dalam jumlah besar sering dianggap cara pintas menekan pengeluaran. Andy melihat logika itu tidak selalu berlaku. Ada beberapa kondisi yang justru membuat pembelian besar berakhir jadi kerugian.

  • Rumah tangga tidak terbiasa memasak sendiri
  • Bahan makanan yang dibeli cepat busuk atau kedaluwarsa
  • Tidak ada tempat penyimpanan yang memadai
  • Pembelian hanya didasari rasa penasaran mencoba produk baru

"Kita membeli bahan makanan dalam jumlah banyak, padahal sebenarnya kita males masak," kata Andy.

Karena itu, jumlah bahan pangan yang dibeli sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi keluarga dan kapasitas penyimpanan. Hitungan sederhananya, beli sebanyak yang benar-benar akan dimakan sebelum rusak.

FOMO Tren dan Promo Gerus Anggaran

Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang sering luput dari perhatian. Andy menyoroti kebiasaan membeli makanan dan minuman viral lewat layanan pesan antar, mengikuti tren kuliner, hingga tergoda promo diskon sebagai sumber kebocoran yang jarang disadari.

Padahal, pembelian semacam itu belum tentu masuk kategori kebutuhan pokok. Ongkos kirim yang menempel di setiap pesanan membuat pengeluaran makin membengkak jika dilakukan rutin.

Dalam sebulan, akumulasi belanja jajan dan pesan antar bisa menggerus porsi anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk bahan pangan sehari-hari. Efeknya terasa di akhir bulan, saat dana belanja menipis sementara kebutuhan makan keluarga tetap harus dipenuhi.

Yang Perlu Dipegang Rumah Tangga

Andy menekankan tiga hal yang saling terkait: skala prioritas, disiplin menyisihkan dana, dan kontrol diri terhadap tren konsumsi. Ketiganya bukan penghematan jangka pendek, melainkan cara mengelola arus kas rumah tangga saat pendapatan tidak ikut naik mengikuti harga pangan.

Bagi rumah tangga dengan penghasilan tetap, strategi ini membantu menjaga kebutuhan gizi keluarga tetap terpenuhi tanpa harus memangkas pos pengeluaran penting lainnya. Bagi pelaku usaha kuliner dan ritel pangan, pola belanja yang lebih terukur ini juga bisa mengubah preferensi konsumen ke depan.

Follow www.kabarsumut.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks