SUMATERA UTARA — Mercedes-Benz berpotensi lolos dari larangan teknologi China dalam Connected Vehicle Rule yang tengah dibahas Kongres AS, meski hampir 20 persen sahamnya dimiliki entitas China. Senator Bernie Moreno menegaskan tidak ada keinginan melarang penjualan mobil Mercedes di Amerika. Aturan ini bisa disahkan pekan ini sebelum Senat reses hingga November.
Senator Bernie Moreno dari Partai Republik yang juga mantan dealer mobil menyatakan Kongres tidak berencana menghentikan penjualan kendaraan Mercedes-Benz di Amerika Serikat. Pernyataan itu muncul di tengah pembahasan Connected Vehicle Rule, kebijakan Kementerian Perdagangan AS yang membatasi penjualan kendaraan dengan teknologi dari negara yang dianggap berseberangan seperti China.
Aturan ini menjadi persoalan rumit bagi pabrikan yang punya keterkaitan kepemilikan dengan China, termasuk Volvo, Polestar, dan Mercedes-Benz. RUU baru yang sedang berjalan di Kongres bertujuan memperkuat perlindungan pemerintah AS terhadap kendaraan berafiliasi China, namun Mercedes berpotensi menghindari bagian paling pelik dari aturan tersebut.
Ambang Batas Kepemilikan 15 Persen Jadi Kunci
Jika disahkan menjadi undang-undang, Connected Vehicle Rule yang telah disetujui Komite Perdagangan Senat pada Juli lalu akan melarang perusahaan dengan kepemilikan lebih dari 15 persen oleh entitas China untuk menjual kendaraan di AS. Saat ini, Mercedes memiliki hampir 20 persen kepemilikan pasif oleh entitas tersebut.
Moreno menyampaikan kekhawatiran soal ambang batas itu. "Yang jelas kami tidak akan melarang kendaraan Mercedes-Benz di Amerika," kata Moreno kepada Reuters. Ia menambahkan, "Ada kekhawatiran, bisakah mereka mencapai 15 persen tanpa melumpuhkan perusahaan mereka?"
Volvo Lolos, Polestar Dilarang hingga 2027
Meski dimiliki Geely asal China, Volvo berhasil memenuhi pemeriksaan rinci Kementerian Perdagangan dan diizinkan menjual kendaraan di AS. Polestar, yang juga dimiliki Geely, menjalani pemeriksaan serupa tetapi akhirnya dilarang menjual kendaraan di AS hingga 2027.
Moreno menyebut Aston Martin juga berpotensi terkena aturan ini karena kepemilikan Geely sebesar 17 persen. Lotus juga bisa menghadapi masalah serupa lantaran mayoritas sahamnya dikuasai Geely.
Dukungan Bipartisan dan Penolakan Rand Paul
Dukungan lintas partai mempercepat RUU ini melewati proses legislatif. Senator Elissa Slotkin dari Partai Demokrat menyatakan Demokrat mendukung mendorong aturan itu, sementara Moreno berharap undang-undang bisa final pekan ini sebelum Senat reses hingga November.
Slotkin meyakini RUU ini mendapat dukungan 99 senator, dengan hanya Senator Rand Paul yang menahan diri. Paul mengaku menolak karena menilai pabrikan itu diserang secara tidak adil.
"Jika mereka mengeluarkannya dari RUU, saya sudah bilang RUU bisa jalan. Mereka perlu mengeluarkannya. Sebuah RUU tidak boleh menyerang satu perusahaan secara langsung," kata Paul kepada Reuters soal posisi Mercedes-Benz dalam aturan tersebut.
Kekhawatiran Keamanan Nasional dan Tekanan Pabrikan Domestik
Kekhawatiran soal implikasi keamanan nasional dari teknologi China menjadi pendorong utama Connected Vehicle Rule. Namun, kecemasan terhadap industri otomotif China secara umum sedang tinggi di AS saat ini.
Setelah Presiden Donald Trump menyatakan akan menerima perusahaan mobil China membangun pabrik di AS pekan lalu, pabrikan domestik seperti Ford menyuarakan kekhawatiran. Ini menyusul aturan pemerintahan Biden awal 2025 yang praktis melarang semua pabrikan China menjual atau membangun kendaraan penumpang di dalam negeri dengan alasan perlindungan data.
Belum jelas bagaimana Mercedes-Benz akan menghadapi situasi ini, tetapi pabrikan Jerman itu tampaknya memiliki pendukung kuat di Kongres. Keputusan akhir soal ambang batas kepemilikan 15 persen dan posisi Mercedes akan ditentukan dalam voting Senat yang diperkirakan berlangsung dalam waktu dekat.