JAKARTA — Rencana hilirisasi aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, mulai menemui titik terang. CEO BPI Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, mengungkapkan pembahasan penguatan ekosistem industri aluminium terintegrasi bersama MIND ID dan Inalum, Sabtu (21/8/2026).
Proyek ini dirancang mencakup rantai penuh, mulai dari tambang bauksit, pabrik pengolahan menjadi alumina (Smelter Grade Alumina Refinery/SGAR), hingga smelter aluminium. Pengerjaannya melibatkan anggota MIND ID, yakni Inalum dan Antam melalui PT Borneo Alumina Indonesia.
Lompatan Nilai Tambah dari US$40 ke US$3.000 per Ton
Hilirisasi bauksit disebut mampu mengerek nilai tambah komoditas secara drastis. Rosan menyebut, bauksit mentah yang semula hanya bernilai US$40 per ton bisa melonjak menjadi US$2.800 hingga US$3.000 per ton setelah diolah menjadi aluminium.
“Hilirisasi harus mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan industri. Bersama MIND ID dan Inalum, kami membahas pengembangan ekosistem aluminium yang terintegrasi di Mempawah, Kalimantan Barat, dari bauksit dan alumina hingga aluminium,” tulis Rosan melalui akun Instagram resminya, @rosanroeslani.
Target Infrastruktur Energi Selesai 2028
Untuk menopang operasional smelter raksasa ini, pemerintah membidik seluruh infrastruktur energi pendukung rampung pada 2028. Target akhirnya, rantai pasok strategis nasional menguat dan Indonesia tak lagi bergantung pada impor aluminium pada 2030.
Aluminium sendiri diposisikan sebagai material strategis abad ke-21. Kebutuhannya mencakup sektor transportasi, energi terbarukan, konstruksi, hingga industri pertahanan.
Investasi Rp 110 Triliun untuk Enam Proyek Hilirisasi
Proyek Mempawah merupakan bagian dari gelombang besar hilirisasi nasional. Sebelumnya, Danantara telah meresmikan groundbreaking enam proyek senilai sekitar US$7 miliar atau setara Rp 110 triliun pada Februari 2026.
Khusus untuk proyek pengolahan bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah, total investasi yang digelontorkan mencapai US$6,32 miliar. Nilai tersebut menjadikannya salah satu proyek hilirisasi terbesar yang tengah berjalan di tanah air.
Manufaktur Ikut Digarap, Gajah Tunggal Ekspansi Produksi Ban
Dalam kesempatan yang sama, Danantara juga membahas penguatan sektor manufaktur dengan PT Gajah Tunggal Tbk. Diskusi difokuskan pada rencana ekspansi produksi, termasuk pengembangan fasilitas ban PCR (Passenger Car Radial).
Langkah ini diambil untuk memperkuat pasar domestik sekaligus memperluas penetrasi pasar ekspor produk ban Indonesia. “Dari sumber daya menjadi industri. Dari industri menjadi nilai tambah. Inilah hilirisasi yang menciptakan lapangan kerja, memperkuat kemandirian, dan meningkatkan daya saing Indonesia,” tegas Rosan.
Kolaborasi antara Danantara, BUMN tambang, dan swasta manufaktur ini diharapkan menjadi akselerator bagi Indonesia untuk bertransformasi menjadi negara industri berdaya saing global.