SUMATERA UTARA — Koji Watanabe, Presiden Honda Racing Corporation (HRC), angkat bicara mengenai lika-liku kembalinya pabrikan Jepang itu ke Formula 1 sebagai pemasok mesin penuh untuk Aston Martin. Dalam wawancara eksklusif dengan The Drive, Watanabe mengungkapkan bahwa masalah terbesar di awal musim bukanlah kurangnya tenaga, melainkan getaran parah yang tidak terduga dan sempat membuat tim kebingungan.
Getaran tersebut pertama kali terdeteksi saat pramusim di Bahrain dan memuncak pada GP Australia. Masalahnya bukan sekadar kenyamanan, melainkan getaran itu merusak baterai mobil, memaksa seluruh tim memutar otak untuk mencari solusi darurat.
Getaran Tak Terduga yang Memicu Rapat Tegang
Watanabe menjelaskan bahwa getaran ini menjadi kejutan besar bagi Honda. Pada musim 2025, saat masih bekerja sama dengan Red Bull, mesin HRC tidak menunjukkan gejala getaran serupa. Oleh karena itu, tim sempat kebingungan menentukan akar masalahnya dan menghabiskan banyak waktu di fase analisis.
"Rapat dengan Aston Martin setelah balapan pertama di Australia sangat, sangat serius dan tegang," ujar Watanabe. "Kami dipaksa fokus hanya untuk menyelesaikan masalah getaran ini, padahal idealnya kami ingin membahas banyak hal lain."
Menariknya, Watanabe menolak menyebutkan persentase tanggung jawab antara Honda dan Aston Martin atas masalah ini. Ia hanya menegaskan sumber getaran berasal dari mesin, namun sasis Aston ikut memperkuat efeknya. "Sangat penting bagi sisi PU dan sasis untuk berkolaborasi. Bukan hanya satu pihak," tegasnya.
Budaya Honda: Tak Ambil Pusing dengan Komentar Newey
Di tengah tekanan, Managing Technical Partner Aston Martin, Adrian Newey, sempat melontarkan komentar sinis bahwa ia tidak diberitahu tentang kondisi sebenarnya program F1 Honda saat kesepakatan diteken. Namun, sikap ini tidak membuat Honda panik.
"Kami tidak terlalu terganggu dan tidak menganggapnya pribadi," kata Watanabe. "Budaya perusahaan Honda adalah jika ada masalah, kami mengambil tindakan sendiri dan berusaha menyelesaikannya. Kami tidak panik karena sikap Aston Martin; kami hanya melanjutkan pekerjaan pada PU."
Watanabe menambahkan bahwa kunci kolaborasi jangka panjang adalah rasa saling percaya dan menghormati. Ia berharap nilai-nilai yang sama juga dimiliki Aston Martin, meski hal itu tidak bisa terbentuk dalam semalam.
Target Realistis Spec 2 di GP Belanda
Setelah berbulan-bulan hanya berfokus pada mitigasi getaran, Honda akhirnya bisa bernapas lega. Perbaikan signifikan berhasil diterapkan di Miami, dan kini giliran pembaruan besar pertama yang disebut "Spec 2" debut di sirkuit Zandvoort akhir pekan ini.
Spec 2 membawa sejumlah ubahan internal, termasuk ruang pra-pembakaran baru untuk mempercepat pembakaran, bentuk piston baru, dan sistem pelumasan yang dimodifikasi untuk mengurangi gesekan. Ini adalah salah satu dari dua kesempatan pengembangan yang diizinkan FIA untuk pabrikan yang tertinggal lebih dari 4 persen dari pemimpin performa.
Watanabe enggan menyebut target angka spesifik, tetapi ia menegaskan target tim bukanlah mengejar podium. "F1 adalah medan perang yang terlalu sulit. Target kami adalah bertarung di posisi 10 besar dan mulai mengumpulkan poin," ujarnya. "Jika kami bisa mulai melihat itu, saya rasa kami berhasil memenuhi tujuan dari pembaruan besar ini."
Kombinasi paket aerodinamika baru Aston Martin yang diperkenalkan di Hungaria dan mesin Spec 2 diharapkan menjadi titik balik bagi Fernando Alonso dan Lance Stroll untuk bersaing di papan tengah.