Pencarian

Kajian I-SER UI soal Banjir Garoga: Bencana Hidrometeorologi Murni, Bukan Akibat Aktivitas Tambang Emas Martabe

Jumat, 14 Agustus 2026 • 16:59:01 WIB
Kajian I-SER UI soal Banjir Garoga: Bencana Hidrometeorologi Murni, Bukan Akibat Aktivitas Tambang Emas Martabe
Peneliti I-SER UI menyatakan banjir di Desa Garoga merupakan bencana hidrometeorologi murni yang tidak terkait dengan aktivitas tambang emas Martabe.

TAPANULI SELATAN — Banjir yang merendam Desa Garoga pada November 2025 tidak bisa dilepaskan dari karakteristik unik sistem daerah aliran sungai (DAS) di lanskap Batang Toru. Tim peneliti I-SER UI menegaskan bahwa kawasan terdampak utama berada di bagian tengah DAS Garoga, sementara DAS Aek Pahu yang berada dalam satu bentang alam memiliki pola hidrologi terpisah.

Peneliti I-SER UI, Dr. Eko Kusratmoko, menjelaskan bahwa DAS Aek Pahu memiliki sistem aliran tersendiri yang bermuara melalui Sungai Aek Pahu menuju hilir DAS Garoga. "Berdasarkan analisis kami, tidak terdapat hubungan langsung antara aliran dari area Martabe dengan banjir yang terjadi di DAS Garoga," ujarnya dalam Diseminasi Hasil Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pasca Banjir Besar 2025 di Medan, Selasa (11/8/2026).

Hujan 600 Mm Seminggu, Infrastruktur Martabe Mampu Tampung Curah Hujan 700 Tahun

Kajian yang mengintegrasikan data geologi, geomorfologi, geofisika, penginderaan jauh, dan hidrometeorologi ini menemukan fakta krusial. Akumulasi curah hujan mingguan saat bencana melampaui 600 milimeter, sebuah intensitas yang luar biasa untuk kawasan pegunungan Sumatera.

Analisis spesifik terhadap DAS Aek Pahu menunjukkan infrastruktur penampung air milik PT Agincourt Resources (PTAR) yang mengelola tambang emas Martabe terbukti andal. "Infrastruktur yang dimiliki Martabe mampu menampung curah hujan dengan periode ulang hingga sekitar 700 tahun," ungkap Dr. Eko. Curah hujan tinggi di kawasan itu terserap ke sistem penampungan, sehingga tidak menghasilkan aliran tambahan yang berkontribusi terhadap banjir di Desa Garoga.

Migrasi Saluran Alami dan Geomorfologi Pegunungan Jadi Faktor Penguat

Selain hujan ekstrem, tim peneliti menemukan faktor penguat lain yang memperparah dampak bencana. Kondisi geomorfologi pegunungan yang curam serta struktur geologi Batang Toru membuat daerah ini rentan terhadap aliran permukaan yang deras. Dinamika DAS dengan migrasi saluran alami yang berulang setiap 5–10 tahun juga menjadi catatan penting dalam kajian ini.

Sebelumnya, PTAR pada Desember 2025 telah mengeluarkan pernyataan bahwa perusahaan beroperasi di sub DAS Aek Pahu yang terpisah dari DAS Garoga. Kini, kajian independen dari akademisi UI tersebut memberikan landasan ilmiah yang memperkuat pernyataan itu.

Rekomendasi untuk Pemkab Tapanuli Selatan: Replikasi Kajian ke Daerah Lain

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menyambut baik hasil kajian ini. Ia menilai temuan tersebut menjadi landasan ilmiah yang sangat dibutuhkan daerah dalam menyusun kebijakan mitigasi bencana. "Kami berharap dari riset dan diskusi ini ada rekomendasi kepada kami di Tapanuli Selatan untuk bagaimana menjaga alam dan ekosistem di Tapanuli Selatan," katanya.

Dr. Eko menambahkan, kajian ini dirancang sebagai kasus percontohan yang dapat direplikasi ke wilayah lain dengan karakteristik dan potensi risiko serupa. Rencananya, metodologi serupa akan diperluas ke Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara. "Pemahaman yang tepat terhadap batas dan karakter masing-masing DAS adalah fondasi ilmiah yang tidak bisa diabaikan dalam setiap upaya penanggulangan dan pencegahan bencana hidrometeorologi di kawasan pegunungan Sumatera," tegasnya.

Follow www.kabarsumut.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sumut.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks