SUMATERA UTARA — Indeks Harga Saham Gabungan ditutup menguat 1,21% atau 74,07 poin ke level 6.192 pada perdagangan Selasa (6/10), melanjutkan lonjakan 1,36% sehari sebelumnya. Namun di saat yang sama, investor asing justru membukukan jual bersih Rp 629,87 miliar pada hari tersebut, sehingga akumulasi net sell sejak awal tahun menembus Rp 83,29 triliun.
Penguatan dua hari beruntun itu menambah 156,04 poin ke posisi IHSG, dari 6.036 pada akhir pekan lalu menjadi 6.192. Tapi Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai kenaikan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan indeks keluar dari tren bearish.
"Lebih tepat dilihat sebagai technical rebound dan perlu dikonfirmasi dengan volume serta foreign flow yang konsisten," kata Elandry kepada Katadata.co.id, Rabu (7/10).
Tekanan jual asing sebenarnya sempat mereda pada Senin (5/10) dengan net sell Rp 115,71 miliar. Angka itu melonjak hampir enam kali lipat sehari kemudian menjadi Rp 629,87 miliar. Akumulasi sejak Januari hingga 6 Oktober mencapai Rp 83,29 triliun.
Artinya, penguatan IHSG dua hari terakhir lebih banyak ditopang aksi beli investor domestik ketimbang masuknya dana asing. Kondisi ini yang membuat Elandry menyebut risk appetite investor mulai membaik, tapi belum sampai pada fase bullish.
Pelaku pasar masih bersikap wait and see menunggu hasil peninjauan indeks MSCI pada November 2026. Hasil peninjauan tersebut dinilai menjadi salah satu penentu arah aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.
Elandry memperkirakan IHSG berpeluang menyentuh level 6.700-6.900 pada akhir tahun jika sentimen global dan aliran modal mendukung. Isu MSCI tetap menjadi risiko utama yang perlu dicermati, sementara Santa Rally disebut hanya katalis tambahan, bukan alasan utama mengejar pasar.
Tim Analis KISI juga menilai penguatan dua hari terakhir belum menunjukkan peralihan ke fase bullish. Kenaikan tersebut masih berupa rebound dari tren minor downtrend.
Elandry menyoroti sektor energi, basic materials, financials terutama bank besar, serta consumer sebagai area yang dapat dicermati hingga akhir tahun. Tim Analis KISI secara khusus merekomendasikan sektor energi dan komoditas batu bara.
Bagi investor, sinyal yang perlu ditunggu bukan sekadar angka indeks, melainkan konsistensi volume transaksi dan arus dana asing. Tanpa keduanya, penguatan IHSG berisiko berbalik arah seperti pola rebound sebelumnya.