MEDAN — Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya menjadi titik evaluasi diri, bukan sekadar agenda tahunan yang rutin digelar. Pesan itu disampaikan Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Medan Kecamatan Medan Belawan, Lela Hamidah, S.Ag., di hadapan jamaah PW Muslimat NU Sumatera Utara, Sabtu (29/8/2026).
Dalam bimbingan dan penyuluhan yang berlangsung di Kantor PW NU Sumut tersebut, Lela mengajak setiap muslim menghadirkan nilai kasih sayang dan kedamaian di lingkungannya masing-masing. Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup diucapkan, melainkan harus dibuktikan lewat sikap dan perbuatan sehari-hari.
Lela mengangkat kandungan QS. Al-Anbiya ayat 107 yang menegaskan bahwa Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ia menekankan, konsep ini bersifat universal dan tidak terbatas pada satu golongan atau kelompok tertentu saja.
"Rasulullah SAW diutus bukan hanya untuk satu golongan atau kelompok, tetapi menjadi rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, sebagai umat beliau, kita harus mampu menghadirkan kebaikan, kasih sayang dan kedamaian di mana pun kita berada," ujarnya.
Lebih lanjut, Lela mengingatkan agar keberadaan seorang muslim tidak justru menimbulkan keresahan bagi orang lain. Sebaliknya, kehadiran mereka diharapkan membawa manfaat dan ketenteraman bagi masyarakat luas.
Menjadi umat Nabi Muhammad SAW menuntut pembuktian nyata dalam perilaku. Lela menjelaskan, Rasulullah telah memberi contoh bagaimana membangun hubungan baik dengan Allah SWT sekaligus menjaga hubungan dengan sesama manusia.
"Kalau kita benar-benar mencintai Rasulullah SAW, maka akhlak beliau harus terlihat dalam diri kita. Ketika kita berbicara, ada kejujuran; ketika diberi amanah, kita jaga dengan baik; dan ketika berhadapan dengan orang lain, kita mengedepankan kasih sayang," jelasnya.
Keteladanan tersebut, kata Lela, bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten. Dengan begitu, akhlak Rasulullah tidak hanya menjadi materi ceramah, melainkan kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempatan itu, Lela memberikan perhatian khusus pada peran perempuan dalam membangun keluarga berakhlak. Ia menilai, posisi ibu sangat strategis dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada anak sejak dini.
"Kaum Muslimat memiliki peran yang sangat penting dalam menghadirkan generasi yang mencintai Rasulullah SAW. Keteladanan itu bisa dimulai dari rumah, dari cara kita berbicara kepada anak dan memperlakukan pasangan," ungkapnya.
Menurutnya, anak-anak akan lebih mudah belajar akhlak ketika mereka melihat langsung contoh nyata dari orang tuanya. Pendidikan di lingkungan keluarga akan lebih kuat apabila disertai teladan, bukan sekadar nasihat.
Lela juga mengajak jamaah menjadikan peringatan Maulid sebagai sarana introspeksi. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia tidak luput dari kekurangan, sehingga momentum ini tepat untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama.
"Kalau hari ini kita masih mudah marah, sulit memaafkan, atau kurang peduli terhadap sesama, maka mari kita jadikan momentum ini untuk memperbaiki diri," tuturnya.
Ia mengajak jamaah memperbanyak shalawat, meningkatkan kualitas ibadah, dan mempererat silaturahmi. Sikap saling menghormati, menjaga lisan, dan membantu sesama disebut sebagai bentuk sederhana menghadirkan rahmat dalam kehidupan sosial.