SUMATERA UTARA — PT PLN (Persero) menandatangani nota kesepahaman dengan The Climate Group (RE100) untuk memperkuat pengembangan produk energi hijau di Indonesia. Kolaborasi ini menyasar lonjakan permintaan energi terbarukan dari perusahaan global yang beroperasi di dalam negeri, seiring pertumbuhan pelanggan REC PLN yang melesat sepanjang 2025.
Paragraf pembuka: Penandatanganan MoU berlangsung dengan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut potensi energi terbarukan Indonesia sebagai modal penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi. Kolaborasi dengan The Climate Group dinilai menjadi langkah strategis untuk mempertemukan kebutuhan perusahaan global terhadap energi ramah lingkungan dengan solusi energi hijau yang dikembangkan PLN.
Lonjakan Permintaan Energi Hijau
Darmawan mengatakan kolaborasi ini didasari oleh kebutuhan energi hijau di Indonesia yang terus meningkat. Pada 2025, jumlah pelanggan Renewable Energy Certificate (REC) PLN mencapai 18.715 pelanggan dengan volume energi 6,43 TWh.
Angka itu melesat dibanding 2024 yang baru mencapai 7.354 pelanggan dengan volume 5,38 TWh. Artinya, jumlah pelanggan REC PLN tumbuh lebih dari dua kali lipat dalam setahun.
Permintaan tersebut antara lain berasal dari sektor pertambangan, manufaktur, kimia, pulp dan kertas, makanan, serta data center. Sektor-sektor ini menjadi penggerak utama kebutuhan energi hijau di pasar domestik.
Siapa yang Diuntungkan
Perusahaan global yang tergabung dalam inisiatif RE100 kini punya jalur lebih jelas untuk memenuhi komitmen energi terbarukan mereka di Indonesia. The Climate Group menaungi lebih dari 400 perusahaan global melalui inisiatif tersebut.
Direktur Retail dan Niaga PLN, M. Fahrur Rozy, menyebut kemitraan ini akan memperkuat ekosistem energi hijau nasional sekaligus mendukung kebutuhan pelanggan yang terus berkembang.
"Melalui kemitraan kami dengan The Climate Group, kami bertujuan untuk memperkuat hubungan antara permintaan energi hijau yang terus tumbuh dan pengembangan solusi energi terbarukan di Indonesia, serta membuka peluang investasi baru," ujar Rozy.
Bagi pelaku industri, kepastian pasokan energi hijau menjadi faktor penting dalam keputusan investasi. Perusahaan yang berkomitmen menurunkan emisi karbon butuh sumber listrik bersih yang kredibel, bukan sekadar klaim.
Taruhan pada Potensi Energi Terbarukan
Darmawan menegaskan PLN ingin memastikan setiap kebutuhan energi hijau dari industri dapat dijawab dengan solusi yang kredibel. Optimasi kekayaan energi terbarukan Indonesia menjadi kunci untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"MoU dengan The Climate Group menjadi bagian dari upaya strategis untuk mempertemukan kebutuhan perusahaan global terhadap energi terbarukan dengan pengembangan solusi energi hijau di Indonesia. Melalui penyediaan energi yang andal, berkualitas, dan semakin hijau, PLN ingin mendukung investasi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Darmawan.
Langkah ini mempertegas posisi PLN sebagai penyedia energi hijau utama di pasar domestik. Pertumbuhan pelanggan REC yang agresif menunjukkan permintaan pasar sudah nyata, bukan proyeksi jangka panjang semata.
Penutup: Kolaborasi PLN dan The Climate Group menjadi sinyal bahwa transisi energi di Indonesia bergerak dari wacana ke kontrak dagang. Bagi industri, energi hijau kini bukan lagi biaya tambahan, melainkan syarat untuk tetap kompetitif di rantai pasok global.