SUMATERA UTARA — Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 30 tahun menembus 5,48% pada 24 September 2026, level tertinggi sejak 2004. Tekanan pasar obligasi global akibat kekhawatiran inflasi dan membengkaknya belanja pemerintah AS membuat investor negara berkembang mencermati ulang daya tarik surat utang lokal. Perencana keuangan menilai obligasi RI tetap kompetitif karena menawarkan yield sekitar 7%, lebih tinggi dari obligasi AS di kisaran 5,29% dan Jepang 3,08%.
Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menilai lonjakan yield obligasi AS tidak serta-merta menggerus daya tarik surat utang Indonesia. Selisih imbal hasil yang lebar menjadi bantalan utama di tengah gejolak pasar obligasi global.
"Obligasi RI menurut saya masih cukup menarik dan bisa 'melawan' obligasi AS dan Jepang yang sedang dinamis. Hal ini dikarenakan imbal hasil yang ditawarkan masih cukup kompetitif yaitu sekitar 7 persen, masih lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi AS yang berada di kisaran 5,29 persen dan obligasi Jepang yang di kisaran 3,08 persen," ujar Andi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (2/10).
Selisih Yield Jadi Kunci Daya Tarik
Perencana keuangan Mike Rini Sutikno melihat daya tarik obligasi RI bertumpu pada spread yield terhadap obligasi negara maju. Selisih tersebut membuka peluang bagi investor yang mengejar imbal hasil lebih tinggi dengan tetap memperhitungkan risiko.
"Obligasi RI dengan yield saat ini itu 6 (persen) sampai 7 persen deh jadinya lebih menarik kan, lebih tinggi dari yield bond-nya AS. Jadi lebih menarik," ujar Mike.
Mike menjelaskan kondisi tersebut dapat mendorong fenomena flight to yield, yakni perpindahan dana investor ke pasar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Dari sisi valuasi, obligasi RI dinilai masih kompetitif, ditopang nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang relatif stabil.
Meski begitu, investor tetap perlu mencermati arah kebijakan The Fed. Perubahan suku bunga AS dapat memengaruhi aliran dana ke pasar obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia.
Alokasi Portofolio Sesuai Profil Risiko
Andi menyebut obligasi lebih sesuai bagi investor dengan profil risiko konservatif hingga moderat, meski investor agresif juga dapat memasukkannya sebagai bagian dari diversifikasi portofolio. Untuk investor konservatif atau moderat, alokasi sekitar 30%-50% aset dapat ditempatkan pada obligasi, sementara investor agresif sekitar 20%-30%.
Dalam memilih produk, Andi menyarankan investor menyesuaikan tenor obligasi dengan kebutuhan dan strategi investasi. Dana yang digunakan sebaiknya merupakan uang dingin agar kebutuhan keuangan tidak terganggu selama dana masih diinvestasikan.
"Pastikan dana yang akan kita investasikan memang 'uang dingin', yang artinya selama masa kontrak kita tidak akan kerepotan karena uang tersebut sedang 'diparkir'," ujar Andi.
Investor ritel dapat membeli obligasi melalui aplikasi teknologi finansial (fintech) yang menawarkan produk tersebut. Pilihan tenor perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan strategi investasi masing-masing.
Porsi Obligasi Menurut Profil Investor
Mike memerinci alokasi obligasi berdasarkan profil risiko. Investor konservatif dapat menempatkan 60%-70% portofolio pada obligasi, dengan fokus pada obligasi pemerintah durasi menengah sekitar tiga sampai lima tahun untuk menyeimbangkan yield dan volatilitas.
- Investor moderat: porsi obligasi sekitar 50%-60%, mencakup obligasi pemerintah dan korporasi berperingkat investment grade dengan diversifikasi sektor dan tenor.
- Investor agresif: porsi obligasi lebih rendah, dapat disesuaikan dengan kondisi portofolio termasuk obligasi korporasi berisiko lebih tinggi.
Mike juga menyarankan pembelian dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus. Investor dapat menggunakan strategi dollar cost averaging dan mencampurkan obligasi dengan tenor berbeda untuk menyesuaikan kebutuhan likuiditas dan tujuan mendapatkan yield.
"Kalau obligasi kalau saya lihat sih obligasi RI ya masih cukup menarik untuk dilirik ya terutama untuk investor yang kalau memiliki profil risiko atau kecenderungan atau risk appetite-nya menengah hingga tinggi, lalu time horizon-nya juga jangka panjang nih. Jadi obligasi RI tentunya masih cukup menarik," ujar Mike.
Peringkat Kredit hingga Likuiditas Wajib Dicek
Dalam memilih obligasi, Mike meminta investor tidak hanya melihat besarnya yield. Peringkat kredit, penerbit, sektor, jatuh tempo, durasi, dan likuiditas juga perlu diperiksa sebelum menempatkan dana.
Kombinasi yield kompetitif dan selisih terhadap obligasi AS membuat surat utang RI tetap masuk radar investor. Namun keputusan penambahan porsi tetap bergantung pada profil risiko, tujuan finansial, dan horizon investasi masing-masing.