PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional I Sumatera Utara menyebut Stasiun Binjai di Kota Binjai kini menjadi penopang utama mobilitas harian warga, dengan volume tertinggi mencapai 9.985 penumpang pada hari kerja. Pergeseran peran itu didukung layanan KA Srilelawangsa milik KAI Bandara bertarif Rp5.000 sekali jalan. Stasiun berstatus cagar budaya ini dulu melayani angkutan perkebunan sebelum beralih fungsi menjadi simpul transportasi perkotaan.
MEDAN — Manajer Humas KAI Divre I Sumatera Utara Anwar Yuli Prastyo mengatakan tingginya antusiasme warga terlihat dari catatan volume harian Stasiun Binjai yang menyentuh 9.985 penumpang pada hari kerja dan 9.730 penumpang pada akhir pekan. Layanan KA Srilelawangsa yang dikelola anak usaha KAI, KAI Bandara, menjadi tulang punggung pergerakan tersebut dengan tarif terjangkau Rp5.000.
Warga sekitar Kota Binjai yang bekerja, menuntut ilmu, maupun memiliki usaha di Medan memanfaatkan kereta lokal itu untuk transportasi harian. Lonjakan pergerakan penumpang juga tercermin dari penggunaan fasilitas parkir di kawasan stasiun.
Parkir Stasiun Binjai Over Kapasitas pada Hari Kerja
Stasiun Binjai memiliki daya tampung area parkir sebanyak 400 sepeda motor dan 35 mobil. Data KAI Services, anak usaha KAI yang mengelola parkir di kawasan itu, mencatat angka tertinggi kendaraan yang parkir pada hari kerja mencapai 600 sepeda motor dan 89 mobil.
Pada akhir pekan, jumlah pengguna fasilitas parkir justru menurun drastis. Pola ini menunjukkan karakter pengguna Stasiun Binjai yang didominasi pekerja dan pelajar komuter, bukan wisatawan akhir pekan.
"Dari kedua data tersebut menunjukkan bahwa peran Stasiun Binjai yang sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya ini telah bergeser, dari dulunya melayani angkutan perkebunan, sekarang telah beralih fungsi menjadi pendukung mobilitas harian masyarakat Kota Binjai," kata Anwar di Medan.
Jejak Timbang Langkat dan Konsesi DSM 1883
Keberadaan Stasiun Binjai berakar kuat sejak era kolonial Belanda. Sebelum menyandang nama sekarang, stasiun itu bernama Stasiun Timbang Langkat, sesuai konsesi pembangunan jalur yang diberikan Pemerintah Belanda kepada Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) pada 23 Januari 1883.
Melalui konsesi itu, DSM diberi izin membangun jalur kereta api antara Medan, Deli Tua, dan berakhir di Stasiun Timbang Langkat dengan jarak 20,8 kilometer. Hingga tahun 1930-an, arsip foto yang tersimpan di sejumlah museum perkeretaapian Belanda masih mencatat nama Timbang Langkat untuk stasiun yang kini berada di Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai.
Nama Binjai muncul setelah kemerdekaan, saat proses nasionalisasi DSM berlangsung. Anwar menyebut tidak ada arsip resmi yang mencatat kapan perubahan nama itu terjadi.
"Tidak ada arsip resmi yang mencatat kapan perubahan nama Stasiun Timbang Langkat menjadi Stasiun Binjai. Kemungkinan hal itu dilakukan seiring berkembangnya kawasan Langkat Hulu, kawasan di mana stasiun ini berada ikut berkembang menjadi kota administrasi," ujarnya.
Dua Lintasan Lama yang Kini Tinggal Kenangan
Jalur Medan menuju Timbang Langkat dibangun untuk memperkuat angkutan perkebunan, khususnya tembakau dan lada. Hingga akhir tahun 1919, dari Stasiun Binjai terdapat dua lintasan yang membentang ke arah berbeda.
Lintasan pertama menuju Stasiun Selesai hingga Stasiun Kuala di Kabupaten Langkat, aktif sampai tahun 2002 sebagai jalur angkutan perkebunan dengan komoditas utama Crude Palm Oil (CPO) dan lateks. Lintasan kedua membentang dari Stasiun Binjai menuju Stasiun Besitang, stasiun transit pertemuan jalur DSM dan Atjeh Tram (Atjeh Staatsspoorwegen) di Aceh.
Anwar menegaskan KAI Divre I Sumatera Utara berkomitmen menjaga kelestarian nilai sejarah dan cagar budaya Stasiun Binjai. Upaya itu berjalan seiring optimalisasi layanan untuk mendukung mobilitas harian warga dan memperkuat konektivitas ekonomi wilayah Sumatera Utara.