Pencarian

Harga Baterai Lithium Anjlok 99 Persen Sejak 1991 Dorong Adopsi EV

Minggu, 03 Mei 2026 • 15:58:59 WIB
Harga Baterai Lithium Anjlok 99 Persen Sejak 1991 Dorong Adopsi EV
Harga baterai lithium global turun drastis hingga 99 persen sejak 1991.

Harga baterai ion lithium global merosot hingga 99 persen dalam tiga dekade terakhir menurut data terbaru Our World in Data. Penurunan biaya drastis ini menjadi sinyal positif bagi percepatan adopsi kendaraan listrik dan transisi energi terbarukan di pasar Indonesia.

Dunia tengah berada di tengah transisi energi besar-besaran untuk meninggalkan bahan bakar fosil. Kunci utama dari pergeseran ini terletak pada teknologi penyimpanan daya, di mana komponen baterai memegang peran vital baik untuk mobilitas listrik maupun penyimpanan cadangan energi surya dan angin.

Laporan riset dari Our World in Data, proyek di bawah Global Change Data Lab Universitas Oxford, mengungkap fakta mencengangkan mengenai efisiensi biaya produksi. Dalam 35 tahun terakhir, harga baterai lithium telah terjun bebas. Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi pasar, melainkan tren teknologi yang konsisten.

Pada tahun 1991, harga satu kilowatt-hour (kWh) baterai ion lithium mencapai 9.210 dolar AS atau sekitar Rp147,3 juta (berdasarkan nilai dolar konstan 2024). Memasuki tahun 2023, harga untuk kapasitas yang sama hanya tersisa 111 dolar AS atau sekitar Rp1,77 juta. Angka ini menunjukkan keruntuhan harga hampir 99 persen dalam kurun waktu tiga dekade.

Revolusi Harga Baterai Mobil Listrik

Penurunan biaya ini memberikan dampak paling nyata pada industri otomotif global. Sebagai ilustrasi, baterai mobil listrik standar saat ini dengan jangkauan 350 hingga 400 kilometer memiliki biaya produksi sekitar 5.000 dolar AS (sekitar Rp80 juta).

Jika kita menarik waktu ke belakang, komponen yang sama akan memakan biaya lebih dari 20.000 dolar AS (Rp320 juta) pada satu dekade lalu. Lebih ekstrem lagi, pada tahun 1991, baterai dengan kapasitas tersebut dibanderol hampir 600.000 dolar AS atau setara Rp9,6 miliar. Berikut adalah rincian penurunan biaya baterai per kWh:

  • Tahun 1991: 9.210 dolar AS (Rp147,3 juta)
  • Tahun 2013: Di atas 700 dolar AS (Rp11,2 juta)
  • Tahun 2023: 111 dolar AS (Rp1,77 juta)
  • Target Akhir 2025: 84 dolar AS (Rp1,34 juta)

Industri otomotif lama mematok angka 100 dolar AS per kWh sebagai "titik paritas" atau ambang batas ekonomi. Pada titik ini, biaya produksi kendaraan listrik dianggap sudah mampu bersaing langsung dengan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) tanpa perlu subsidi besar.

Hukum Wright dan Skala Produksi Global

Data yang dihimpun oleh peneliti Rupert Way bersama BloombergNEF dan Avicenne Energy menunjukkan pola matematis yang stabil. Setiap kali kapasitas produksi akumulatif baterai lithium global berlipat ganda, harga rata-rata turun sebesar 19 persen. Pola ini dikenal dalam dunia industri sebagai Hukum Wright (Wright’s Law).

Loncatan kapasitas produksi ini sangat masif. Dari hanya 130 kWh yang terpasang secara global pada 1991, angka tersebut meledak menjadi 3.510 GWh pada 2023. Artinya, kapasitas produksi telah meningkat 27 juta kali lipat dalam tiga dekade. Dengan ritme instalasi saat ini, penggandaan kapasitas terjadi dalam waktu yang semakin singkat.

Tren ini serupa dengan apa yang terjadi pada energi surya. Menurut data IRENA, biaya energi surya juga anjlok hingga 90 persen antara tahun 2010 dan 2023 mengikuti logika kurva pembelajaran yang sama. Hal ini memungkinkan perencanaan industri yang lebih presisi untuk masa depan grid listrik berbasis energi terbarukan.

Tantangan di Balik Murahnya Harga

Meskipun harga sel baterai terus menyusut, industri masih menghadapi risiko struktural pada rantai pasok. Material utama seperti lithium, kobalt, dan nikel terkonsentrasi secara geografis di wilayah tertentu. Kondisi ini membuat harga tetap rentan terhadap ketegangan geopolitik global.

Selain itu, biaya sel baterai bukanlah satu-satunya variabel. Biaya integrasi sistem, manajemen termal, hingga penggantian unit tetap menjadi faktor penentu harga akhir di tingkat konsumen. Masalah bobot dan volume juga masih menjadi penghambat utama penggunaan baterai lithium pada sektor penerbangan dan truk logistik kelas berat.

Apa Artinya bagi Pasar Indonesia?

Bagi Indonesia, tren penurunan harga baterai global ini memiliki relevansi strategis yang sangat tinggi. Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, penurunan biaya produksi baterai dapat mengakselerasi ambisi pemerintah untuk menjadi pusat ekosistem kendaraan listrik di Asia Tenggara.

Penurunan harga hingga di bawah ambang 100 dolar AS per kWh akan membuat harga jual mobil listrik di Indonesia semakin kompetitif bagi kelas menengah. Jika tren ini berlanjut ke angka 84 dolar AS pada akhir 2025, maka perbedaan harga antara mobil bensin dan mobil listrik diprediksi akan semakin tipis atau bahkan hilang.

Ke depan, fokus industri kemungkinan akan bergeser dari sekadar menurunkan harga sel ke arah peningkatan kepadatan energi dan keamanan baterai. Inovasi pada jenis katoda baru dan baterai solid-state menjadi fase berikutnya yang akan menentukan peta persaingan otomotif global dalam sepuluh tahun ke depan.

Bagikan
Sumber: xataka.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks