BI Ramal Kredit Tumbuh 8,2% di Akhir 2026, Standar Penyaluran Melonggar

Penulis: Amrizal Halim  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:05:01 WIB
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit 8,2% secara tahunan hingga akhir 2026.

SUMATERA UTARA — Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan mencapai 8,2% secara tahunan hingga akhir 2026, naik dari proyeksi survei sebelumnya 7,51%. Proyeksi itu muncul bersamaan dengan pelonggaran standar penyaluran kredit pada kuartal IV 2026, meski biaya dana perbankan diperkirakan justru meningkat.

Perkiraan pertumbuhan kredit 8,2% tercantum dalam Survei Perbankan Kuartal III 2026 yang dirilis Bank Indonesia pada Kamis (22/10). Angka itu lebih tinggi dari proyeksi survei sebelumnya sebesar 7,51%, tetapi masih di bawah realisasi pertumbuhan kredit sepanjang 2025 yang mencapai 9,69% secara tahunan.

Keyakinan bank sentral bertumpu pada Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru kuartal IV 2026 yang diprakirakan mencapai 91,31%. Realisasi survei kuartal III 2026 sebesar 90,08%, sedangkan kuartal IV 2025 hanya 88,92%.

Standar Kredit Melonggar, tapi Masih di Zona Ketat

Pelonggaran tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang diprakirakan turun ke 0,15 pada kuartal IV 2026, dari 0,28 pada kuartal sebelumnya. Penurunan indeks menandakan standar penyaluran lebih longgar, kendati posisinya masih berada di zona ketat.

Menurut BI, pelonggaran terjadi pada aspek plafon kredit, jangka waktu kredit, suku bunga kredit, dan persyaratan administrasi. "Responden memprakirakan outstanding kredit sampai dengan akhir tahun 2026 terus tumbuh. Hal ini didukung prospek kondisi ekonomi yang tetap positif serta risiko penyaluran kredit yang terjaga," tulis BI dalam laporan survei tersebut.

Modal Kerja Jadi Prioritas, Konsumsi Andalkan Multiguna

Berdasarkan jenis penggunaannya, Kredit Modal Kerja diprakirakan menjadi prioritas utama penyaluran kredit baru pada kuartal IV 2026. Posisi berikutnya ditempati Kredit Investasi dan Kredit Konsumsi.

Pada segmen konsumsi, Kredit Multiguna berada di urutan teratas, diikuti KPR/KPA dan Kredit Kendaraan Bermotor. Dari sisi sektor ekonomi, penyaluran kredit baru paling besar diarahkan ke industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta perantara keuangan.

Dana Pihak Ketiga Tumbuh, Deposito Melambat

Dari sisi pendanaan, SBT penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) kumulatif hingga kuartal IV 2026 diprakirakan mencapai 89,76%, naik dari 87,52% pada kuartal III 2026. Namun, indikator itu masih lebih rendah dibanding kuartal IV 2025 yang sebesar 93,97%.

Tabungan dan giro diprakirakan tumbuh lebih tinggi, dengan SBT masing-masing 90,29% dan 89,64%. Sebaliknya, pertumbuhan deposito diperkirakan melambat tajam dengan SBT hanya 28,74%.

Biaya Dana Naik, Margin Perbankan Tertekan

Survei BI menunjukkan biaya dana simpanan rupiah diprakirakan meningkat menjadi 4,39% pada kuartal IV 2026, dari 4,17% pada kuartal III 2026. Biaya dana untuk kredit (cost of loanable funds) juga naik menjadi 5,73%, dari 5,54%.

Untuk instrumen valuta asing dolar Amerika Serikat, biaya dana diprakirakan meningkat menjadi 3,11% pada kuartal IV 2026, dari 2,68% pada kuartal sebelumnya. Kenaikan biaya pendanaan ini berpotensi menekan margin bunga bersih perbankan pada penghujung tahun.

Gambaran survei menunjukkan perbankan memperkirakan penyaluran kredit dan penghimpunan dana masyarakat tetap tumbuh hingga akhir tahun. Pelonggaran standar kredit berjalan bersamaan dengan kenaikan perkiraan biaya pendanaan, sehingga ekspansi kredit kuartal IV akan bergantung pada kemampuan bank menahan beban bunga.

Reporter: Amrizal Halim
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top