MEDAN — Panitia Mburo Tedeh Ate sekaligus Penabalan Marga Wali Kota Medan menyampaikan rencana prosesi adat tersebut langsung kepada Rico Waas. Pertemuan berlangsung di Balai Kota Medan dengan pembahasan teknis acara, mulai dari susunan prosesi hingga unsur budaya Karo yang akan ditampilkan.
Rico Waas menyatakan penerimaan marga bukan sekadar penambahan nama di belakang identitasnya. Ia menyebut ada tanggung jawab yang menyertai kehormatan tersebut, terutama untuk memberi perhatian pada pemberdayaan masyarakat Karo di Kota Medan.
Ketua Panitia Mburo Ate Tedeh sekaligus Penabalan Marga Wali Kota Medan Muhammad Edison Ginting merinci marga yang akan disematkan. Rico Waas akan ditabalkan sebagai Ginting Suka bere-bere Tarigan, sedangkan Ketua TP PKK Kota Medan Ny. Airin Rico Waas menjadi Beru Sembiring Pelawi.
Ginting menyebut acara dikemas sebagai prosesi adat yang khidmat dan dekat dengan keluarga besar masyarakat Karo. Rangkaiannya mencakup penggunaan alat musik tradisional Karo, tradisi adu pengantin yang melibatkan tarian dan nyanyian, serta manuk sangka atau makan nasi bersama.
Sejumlah panitia mendampingi Ginting dalam pertemuan itu, antara lain Harry Indrawan Tarigan sebagai Sekretaris Panitia, Gema Halelu Isa Meliala sebagai Bendahara, serta Terkelin Eritha Br Tarigan, Asem Menitha Br Tarigan, Mikhawati Tarigan, Epta Riana Br Tarigan, dan Hendra Tarigan.
Rico Waas menegaskan tanggung jawab setelah penabalan tidak cukup dijalankan dengan menggunakan marga. Ia ingin memahami sejarah, bahasa, adat istiadat, musik tradisional, dan berbagai tradisi Karo yang diwariskan turun-temurun.
Pemahaman itu, menurutnya, menjadi bekal agar kekayaan budaya Karo bisa dijelaskan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Ia menyadari bahasa dan budaya Karo berbeda dari yang ia kenal sebelumnya.
"Saya ingin bukan hanya melihat, tetapi juga memahami. Karena bahasa dan budayanya berbeda, kita harus bisa menjelaskan mengenai suku Karo. Itu menjadi bagian dari tanggung jawab saya," ungkap Rico Waas.
Ia berharap penabalan marga mempererat hubungan kekerabatan dengan keluarga besar masyarakat Karo. Marga yang diterima diinginkannya tidak berhenti sebagai identitas, tetapi menjadi jembatan menghadirkan manfaat bagi warga, khususnya masyarakat Karo di Kota Medan.
Rico Waas meminta momentum penabalan marga tidak dipandang dari sisi kepentingan politik. Ia ingin prosesi itu dimaknai sebagai bagian dari kekerabatan dan penghormatan terhadap adat serta budaya Karo.
"Bangga hati saya diberikan marga. Mudah-mudahan dengan adanya penabalan ini ada manfaatnya. Jangan sampai hanya terkesan melekatkan nama atau untuk kepentingan politik. Saya ingin ini menjadi bagian dari kekerabatan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Karo, khususnya di Kota Medan," ujarnya.
Ginting menambahkan penabalan marga ini sejalan dengan konsep "Medan untuk Semua", di mana keberagaman suku dan budaya menjadi bagian dari identitas Kota Medan. Masyarakat Karo, katanya, tidak hanya ingin memperkenalkan adat dan tradisi, tetapi juga memperkuat kekerabatan serta kontribusi mereka dalam kehidupan kota.
Keberagaman disebut Ginting sebagai salah satu kekuatan Kota Medan yang sejak dahulu menjadi ruang perjumpaan berbagai suku dan budaya. Penabalan marga Rico Waas bersama Ny. Airin Rico Waas diharapkan tidak hanya menjadi agenda internal masyarakat Karo, tetapi juga ruang membangun kebersamaan dan kolaborasi antarsuku.