TAPANULI SELATAN — Deretan tambang emas berskala besar tersebar dari Grasberg di Mimika, Papua, hingga Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Produksi tambang-tambang itu tidak main-main. Grasberg saja pada 2023 mencetak 1,9 juta ons emas dan 1,6 miliar pon tembaga.
Angka tersebut memang mengesankan. Namun di baliknya, industri penambangan emas dikenal sebagai salah satu sektor paling destruktif terhadap lingkungan.
Untuk menghasilkan satu gram emas, industri harus mengeruk sekitar 2 ton bijih. Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membuat cincin kawin berukuran tebal.
Dampaknya menumpuk bertahun-tahun. Limbah mengalir ke sungai, muara mengalami pendangkalan, dan tanah serta air tercemar merkuri dan sianida.
Warga yang tinggal di sekitar area tambang juga merasakan getaran peledakan dinamit. Rumah-rumah tak jarang retak akibat aktivitas tersebut.
Secara filosofis dan spiritual, aktivitas pertambangan tidak dilarang. Menambang diperbolehkan selama memegang prinsip kemaslahatan umum, pengelolaan yang adil, dan menjaga alam sebagai amanah.
Hasil bumi yang melimpah idealnya dipergunakan untuk memakmurkan rakyat luas. Kenyataannya, sektor ini kerap menjadi lahan basah segelintir oknum yang memperpanjang daftar kasus korupsi.
Kritik ini bukan ajakan menolak pembangunan atau menutup semua tambang. Industri elektronik tetap butuh pasokan mineral. Yang disorot adalah cara pengelolaannya.
Penerapan green mining sungguhan menjadi tuntutan utama. Regulasi lingkungan jangan sampai hanya menjadi dokumen pemanis di atas kertas kerja yang rapi.
Reklamasi lahan bekas tambang juga harus nyata. Lahan yang sudah dikeruk isinya tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Fungsi ekosistemnya wajib dikembalikan.
Transparansi hasil menjadi poin berikutnya. Dampak ekonomi harus benar-benar menetes sampai ke masyarakat lokal, bukan cuma mengalir ke rekening segelintir pejabat.
Indonesia punya segalanya untuk sejahtera. Pertanyaannya tinggal satu: sampai kapan emas dibiarkan terbang ke mana-mana sementara kerusakan lingkungan ditanggung bersama?
Pengelolaan amanah bumi ini menentukan warisan bagi anak cucu. Bukan cuma lubang-lubang besar di tanah, tetapi juga alam yang hijau dan kehidupan yang sejahtera.