SUMATERA UTARA — Season pertama "Dark Matter" berakhir dengan Jason Dessen (Joel Edgerton) yang akhirnya bersatu kembali dengan keluarganya, Daniela (Jennifer Connelly) dan Charlie (Oakes Fegley), setelah petualangan lintas dimensi yang melelahkan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Season kedua yang tayang perdana 28 Agustus 2025 ini langsung melempar penonton ke dalam aksi tanpa jeda, seolah tidak ada waktu untuk bernapas—apalagi mengingat-ingat kembali detail plot season sebelumnya yang rumit.
Konsekuensi dari perjalanan lintas alam semesta langsung terasa di episode pertama. Keluarga Dessen yang mencoba hidup tenang di universe baru harus kembali masuk ke dalam "Box" setelah dikejar oleh Jason versi lain yang mengklaim keluarga tersebut miliknya. Tindakan kekerasan terhadap Jason pendatang ini memaksa mereka kabur lagi, memulai siklus baru pelarian yang tidak ada habisnya.
Masalahnya, tidak seperti Tatiana Maslany di "Orphan Black" yang memerankan karakter klon dengan kepribadian sangat berbeda, Edgerton dan para pemain lain memerankan versi karakter mereka dengan perbedaan yang tipis. Hal ini memang memunculkan pertanyaan filosofis tentang identitas diri, tapi di sisi lain membuat cerita terasa berat dan sulit diikuti, terutama di momen-momen emosional yang menuntut koneksi mendalam dengan karakter tertentu.
Ekspansi multiverse di season ini memang lebih jauh dari sebelumnya, tapi jangan berharap akan melihat dunia yang benar-benar aneh dan spektakuler. Mayoritas universe yang dikunjungi hanya memiliki sedikit perbedaan dari dunia nyata kita. Ini tentu membantu menghemat budget produksi, tapi juga mengurangi daya tarik setiap kali pintu Box terbuka. Tawon pembunuh dari season pertama tidak kembali, meski ada beberapa adegan aksi dan gambaran kiamat singkat yang cukup seru.
Salah satu dunia yang menarik adalah versi alternatif yang teknologinya terbatas, mirip era 1980-an. Blake Crouch selaku kreator, bersama Jacquelyn Ben-Zekry, berhasil mengeksplorasi bagaimana masyarakat berevolusi tanpa kehadiran microchip—sebuah premis yang cerdas dan memberi angin segar di tengah alur cerita yang padat.
Ada beberapa tambahan pemain yang solid. Margo Martindale tampil sebagai perawat pensiunan yang rumahnya menjadi semacam stasiun transit perjalanan antar dimensi. Episode yang berfokus padanya menjadi salah satu yang terbaik di musim ini. Chris Diamantopoulos juga tampil ganda sebagai investigator tangguh yang mencoba mengungkap misteri Box, meski ancamannya tidak sekuat yang terlihat di episode awal.
Di tengah kekacauan multiverse, inti cerita tetap berpusat pada hubungan keluarga Dessen. Edgerton dan Connelly kembali memikul beban emosional terbesar, sementara Amanda Brugel yang kini menjadi pemeran reguler, memberikan warna paling ringan lewat karakternya, Blair, yang tangguh dan pragmatis setelah selamat dari dunia tawon pembunuh.
Season kedua "Dark Matter" memang tidak se-segar dan seramping season pertama. Alurnya yang berbelit dengan banyaknya versi karakter bisa membingungkan, dan eksplorasi dunianya terasa belum maksimal. Namun, drama personal yang diusung tetap kuat dan mengharukan. Ada beberapa episode di pertengahan musim yang berdiri sendiri dan menunjukkan potensi cerita yang lebih luas.
Untuk penggemar setia yang sudah terikat dengan karakter, season ini tetap layak ditonton. Tapi untuk serial yang premisnya "seluruh multiverse adalah taman bermain", "Dark Matter" seharusnya berani berpikir lebih besar dan lebih aneh. Semoga season ketiga bisa mewujudkannya.