SUMATERA UTARA — Kartu grafis yang sudah berumur sering kali mengalami penurunan performa tanpa disadari. Penyebabnya bukan selalu komponen yang mulai aus, melainkan thermal paste atau pasta termal yang mengering dan kehilangan fungsinya sebagai penghantar panas antara GPU dan heatsink.
Sebuah unggahan di Reddit baru-baru ini menunjukkan dampak nyata dari masalah ini. Sebuah NVIDIA GeForce RTX 2080 Ti yang telah digunakan selama beberapa tahun tercatat mengalami hotspot hingga 107°C dan thermal throttling saat beban kerja mendekati 100%. Kondisi ini membuat kartu grafis secara otomatis menurunkan clock speed untuk melindungi diri dari panas berlebih.
Pemilik kartu grafis tersebut kemudian membersihkan thermal paste lama dan menggantinya dengan Arctic MX-7. Hasilnya, suhu hotspot turun sekitar 7–10°C. Meski penurunan suhu terlihat kecil, dampaknya terhadap performa sangat signifikan.
Di benchmark Unigine Heaven 4.0, frame rate melonjak dari sekitar 65 FPS menjadi 106 FPS. Sementara itu, di game Wuthering Waves, performa naik dari hanya 25–30 FPS menjadi 55–65 FPS, atau mendekati dua kali lipat dari sebelumnya.
Menariknya, setelah penggantian pasta, hotspot GPU masih tercatat di kisaran 97–100°C. Artinya, penurunan suhu beberapa derajat saja sudah cukup untuk meredakan thermal throttling dan membuat GPU kembali mempertahankan clock speed optimalnya.
Thermal paste berfungsi mengisi celah mikroskopis antara chip GPU dan heatsink agar perpindahan panas maksimal. Seiring waktu, senyawa ini mengering dan retak, sehingga efisiensi pendinginan menurun drastis. Akibatnya, GPU cepat panas dan performa turun meskipun kartu grafis secara fisik masih sehat.
Gejala yang umum muncul antara lain suhu idle yang lebih tinggi dari biasanya, fan berputar kencang tanpa sebab jelas, hingga frame rate yang menurun di game yang dulu bisa dijalankan mulus. Jika mengalami tanda-tanda ini pada kartu grafis yang sudah dipakai 2–3 tahun, penggantian thermal paste adalah langkah yang layak dicoba sebelum memutuskan membeli GPU baru.
Proses penggantian thermal paste memerlukan ketelitian. Bagi pengguna yang terbiasa membongkar perangkat keras, pekerjaan ini bisa dilakukan sendiri dengan membuka cooler GPU, membersihkan sisa pasta lama menggunakan isopropil alkohol, lalu mengaplikasikan pasta baru secukupnya.
Namun, bagi yang belum berpengalaman, risiko merusak komponen cukup tinggi. Membongkar kartu grafis juga umumnya membatalkan garansi. Untuk itu, menggunakan jasa teknisi yang berpengalaman adalah pilihan yang lebih aman, terutama untuk GPU kelas atas dengan harga yang masih tinggi di pasaran.
Perawatan sederhana seperti ini bisa memperpanjang usia pakai kartu grafis dan menunda kebutuhan upgrade yang biayanya jauh lebih besar. Bagi pengguna di Indonesia yang masih mengandalkan GPU generasi sebelumnya karena harga kartu grafis baru yang tinggi, langkah ini menjadi solusi ekonomis yang layak dipertimbangkan.