MEDAN — Karhutla di lahan gambut menyimpan persoalan yang tidak terlihat dari permukaan. Berbeda dengan kebakaran biasa, api dapat merambat dan membara di lapisan gambut bawah permukaan tanpa menghasilkan kobaran besar yang mudah terdeteksi.
Kajian yang dipublikasikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut kebakaran gambut tipe smouldering ini sangat sulit dipadamkan. Api jenis ini dapat bertahan dan menyebar secara diam-diam, kemudian muncul kembali di permukaan saat kondisi mendukung.
Setidaknya ada tujuh karakteristik yang membuat kebakaran gambut menjadi momok bagi petugas pemadam. Mulai dari pergerakan api yang tidak terlihat hingga kebutuhan air dalam jumlah besar untuk memadamkan bara di kedalaman tanah.
Pada kebakaran gambut, api bergerak melalui lapisan bahan organik di bawah permukaan. Titik api lebih sulit ditemukan dan dijangkau, sehingga api dapat merambat ke area sekitar dan muncul kembali di tempat lain.
Gambut secara alami menyimpan air dalam jumlah besar. Masalah muncul ketika tata air terganggu, misalnya akibat pembangunan kanal yang tidak terkontrol. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam pedoman pemulihan ekosistem gambut menyebut kanal yang membuat gambut kehilangan air menjadi salah satu faktor utama lahan mudah terbakar.
Kebakaran gambut kerap menyisakan bara di bawah permukaan meski api di atas tanah sudah tidak terlihat. Bara tersebut dapat bertahan selama kondisi lingkungan masih memungkinkan. Karena itu, proses mopping-up menjadi keharusan untuk memastikan api benar-benar mati, bukan sekadar hilang dari pandangan.
Menyiram permukaan yang terbakar tidak cukup. Air harus mencapai bagian gambut yang terbakar agar bara tidak kembali menyala. Pedoman penanganan kebakaran gambut bahkan mengatur metode khusus untuk pembasahan gambut hingga jenuh.
Pergerakan api yang tidak selalu terlihat dari permukaan menjadi persoalan terbesar. Kebakaran bisa menjalar ke area lain sebelum diketahui. BRIN mencatat karakter ini menghasilkan asap tebal karena banyaknya bahan bakar yang tersimpan di bawah permukaan tanah.
Karhutla gambut tidak hanya menghasilkan api, tetapi juga asap yang mengganggu kualitas udara. Dampaknya meluas dari lokasi kebakaran dan memengaruhi masyarakat di wilayah sekitarnya, bahkan bisa menembus batas antar kabupaten atau provinsi.
Karakter kebakaran gambut membuat pencegahan menjadi prioritas utama. Menjaga gambut tetap basah, mengendalikan tata air, memantau wilayah rawan, dan melakukan deteksi dini dapat mengurangi risiko kebakaran berkembang.
Senior Advisor KKI Warsi, Rudi Syaf, menekankan pentingnya menjaga muka air gambut sebagai bagian dari pencegahan karhutla.
"Pencegahan jauh lebih penting. Kalau bicara gambut, kalau sudah terbakar itu sulit dipadamkan. Jadi memastikan muka air gambut tetap tinggi harus menjadi prioritas," kata Rudi, dikutip RRI pada 12 Agustus 2026.
Menurut Rudi, keberadaan kanal yang menyebabkan gambut kehilangan air perlu mendapat perhatian serius. Ia mendorong kanal ilegal ditutup, sedangkan kanal yang masih dibutuhkan untuk aktivitas masyarakat dapat dilakukan blocking agar muka air gambut tidak turun.
Karhutla di lahan gambut tidak cukup ditangani dengan memadamkan kobaran api ketika kebakaran sudah terjadi. Menjaga tata air dan kelembapan gambut, melakukan deteksi dini, serta merespons titik api sejak awal menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran meluas.
Karakter api yang dapat merambat di bawah permukaan membuat kebakaran gambut membutuhkan penanganan berbeda. Ketika kebakaran sudah membesar, pemadaman menjadi jauh lebih sulit karena sumber api tidak seluruhnya terlihat dan dapat kembali muncul setelah permukaan dinyatakan padam.
Dalam konteks lahan gambut, mencegah gambut mengering sama pentingnya dengan memadamkan api ketika kebakaran terjadi.