BINJAI — Ruh kepenyairan Tengku Amir Hamzah masih membara di tanah bekas kekuasaan Kesultanan Langkat. Hal itu terlihat dari antusiasme pegiat sastra lintas generasi yang memadati Sanggar Rumah Cerita Binjai pada Minggu (23/8/2026) untuk mengikuti diskusi bertajuk "Kosambi Cakap Sastra".
Acara yang digelar di Jalan Pandega, Gang Pendidikan, Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Binjai Selatan ini menjadi ruang dialog bagi para sastrawan, akademisi, dan pelajar untuk membicarakan eksistensi kesusastraan Binjai. Lebih dari sekadar nostalgia, diskusi ini menyorot pentingnya pendokumentasian karya dan regenerasi penulis muda.
Dr. Suyadi, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang juga pendiri KOSAMBI, hadir secara virtual melalui Google Meet dari Bogor. Ia mengingatkan para peserta agar tidak berhenti pada kebanggaan historis semata.
"Kita tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu. Tengku Amir Hamzah telah memberi fondasi, tugas kita adalah terus membangun lantai-lantai berikutnya. Sastra Binjai harus terus bergerak dan memberikan warna bagi kesusastraan Indonesia," ujar Suyadi dalam sambutannya.
KOSAMBI sendiri berdiri pada 16 Februari 2019. Komunitas ini digagas Suyadi bersama Tsi Taura, M. Yunus Tampubolon, dan Saripuddin Lubis untuk mewadahi sastrawan senior dan muda di Binjai.
Diskusi yang dimoderatori Fauziah M. Nur, M.Pd., penggerak literasi dari STKIP Budidaya Binjai, ini mengerucut pada pengenangan terhadap Abdul Jalil Sidin (1929–2003). Penyair kelahiran Binjai itu dikenal dengan gaya puisinya yang santun dan terikat tradisi Pujangga Baru.
Dr. Shafwan Hadi Umri, M.Hum., yang duduk sebagai narasumber, membagikan memori pribadinya bersama almarhum. "Pak Jalil adalah sosok yang integral, satunya kata dengan perbuatan. Ia seorang guru yang bijaksana dan mengutamakan keteladanan," kenangnya.
Sebuah cerita humor tentang pengalaman "mencuri baca" buku di masa kecil yang diceritakan Jalil Sidin di festival sastra tahun 1978 lalu mengundang tawa peserta. Kisah itu sekaligus menunjukkan kedekatan sang penyair dengan dunia literasi sejak muda.
Karya-karya Abdul Jalil Sidin yang sarat kritik sosial dan kepedulian terhadap lingkungan dinilai masih relevan. Puisi berjudul "Ciliwung Sungai Deli" mengingatkan pada persoalan pencemaran dan kerusakan alam yang belum tuntas hingga hari ini.
Jurnalis Hujan Tarigan yang turut menjadi narasumber menegaskan bahwa karya para penyair senior bukan sekadar dokumen sejarah. Ia menilai karya-karya itu bisa menjadi cermin bagi persoalan sosial yang terus berulang.
Puncak acara diisi penampilan musikalisasi puisi dari Komunitas Rumput Hijau, ekstrakurikuler sastra SMA Negeri 2 Binjai. Dengan alunan musik syahdu, para siswa membawakan puisi-puisi karya Abdul Jalil Sidin dan Tsi Taura.
Penampilan itu menjadi bukti bahwa regenerasi sastra di Binjai berjalan dinamis lewat komunitas sekolah. Ekosistem sastra kota ini juga diperkaya kehadiran Sanggar Senja Insani (SENSANI) di STKIP Budidaya Binjai sejak Juni 2026 lalu.
Tokoh budayawan Binjai, H. Adi Mariadi, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi KOSAMBI. Pria yang dikenal sebagai pengusaha dan pendiri RM Kebun Pondok Punokawan serta Warung Anak Desa ini menyatakan dukungan penuhnya.
"Binjai adalah Kota Kebudayaan. Semangat ini harus terus kita jaga bersama. Saya sangat mendukung penuh kegiatan-kegiatan literasi seperti ini," tegas Adi Mariadi.
Dengan dukungan budayawan, akademisi, jurnalis, dan semangat generasi muda, masa depan kesusastraan Binjai tampak cerah. Sastra di kota ini bukan sekadar kenangan, melainkan identitas budaya yang terus bergerak dan menginspirasi.