Khatib di Batangtoru Ingatkan Jamaah, Cinta Rasul Tak Cukup dengan Shalawat tapi Harus Dibuktikan Akhlak

Penulis: Tengku Syafri  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 15:40:31 WIB
Ustadz Zaidy Asy'Ari menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Baitul Mukhsinin, Aek Pining, Batangtoru, Tapanuli Selatan.

Ustadz Zaidy Asy'Ari mengajak jamaah Masjid Baitul Mukhsinin di Aek Pining, Batangtoru, Tapanuli Selatan, menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum memperbaiki akhlak. Ia menegaskan kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup diwujudkan lewat ucapan dan shalawat, melainkan harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.

TAPANULI SELATAN — Khatib Jumat di Masjid Baitul Mukhsinin, Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Ustadz Zaidy Asy'Ari mengingatkan jamaah bahwa momentum Maulid Nabi Muhammad SAW kerap hanya berhenti pada seremonial. Padahal, esensi peringatan tersebut adalah meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan nyata.

Pesan itu disampaikan dalam khutbah Jumat pada pekan ini, dengan Iswanto bertindak sebagai muazin. Menurut Zaidy, bukti cinta kepada Nabi bukan diukur dari banyaknya shalawat atau kehadiran di majelis Maulid.

Cinta Nabi Diukur dari Cara Menahan Amarah dan Memaafkan

“Cinta kepada Nabi bukan hanya terlihat ketika kita bershalawat, tetapi juga ketika kita mampu mengikuti akhlak beliau dalam menghadapi kehidupan,” ujar Zaidy di hadapan jamaah.

Ia merinci keteladanan yang harus diikuti umat, mulai dari menjaga ucapan, menahan amarah, hingga memaafkan kesalahan orang lain. Sikap lapang dada dan tidak membalas keburukan dengan keburukan menjadi poin penting yang ditekankan khatib.

Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, relevan diterapkan dalam interaksi paling dekat sekalipun. Baik saat menghadapi pasangan, anak, tetangga, maupun orang lain yang menyakiti hati.

Rezeki yang Dititipkan dan Sikap Menghargai Sesama

Selain kelembutan hati, Zaidy mengajak jamaah meneladani kedermawanan Rasulullah SAW. Ia mengingatkan bahwa rezeki dari Allah SWT tidak semata-mata untuk dinikmati sendiri, tetapi ada hak orang lain di dalamnya yang membutuhkan.

Khatib juga menyoroti pentingnya sikap menghargai sesama sebagaimana dicontohkan Nabi. Bentuknya sederhana, seperti mendengarkan orang lain berbicara, memberikan perhatian, dan membuat lawan bicara merasa dihargai keberadaannya.

“Jangan hanya menjadikan bulan Maulid sebagai momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah. Jadikanlah kesempatan ini untuk mulai berubah, mengurangi ucapan yang menyakiti, menahan amarah, mudah membantu, belajar memaafkan dan membiasakan menghargai orang lain,” katanya.

Di akhir khutbah, Ustadz Zaidy berharap umat Islam dapat membuktikan kecintaannya kepada Nabi melalui perbuatan nyata. Ia juga mengajak jamaah terus memperbaiki diri agar kelak mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat.

Reporter: Tengku Syafri
Sumber: sumut.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top