JAKARTA — BRI kembali menerbitkan tabel angsuran KUR per Agustus 2026 sebagai panduan bagi calon debitur. Untuk plafon pinjaman Rp 40 juta, besaran cicilan bervariasi tergantung tenor yang dipilih, mulai dari 12 bulan hingga 60 bulan.
Program KUR BRI ini menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang membutuhkan tambahan modal kerja atau investasi. Bunga yang dibebankan mengikuti ketentuan pemerintah yang berlaku pada tahun berjalan.
Berdasarkan tabel yang dirilis, berikut perkiraan angsuran untuk pinjaman Rp 40 juta dengan tenor berbeda. Angka ini bisa menjadi acuan awal sebelum dilakukan verifikasi oleh petugas bank.
Perlu dicatat, nominal tersebut merupakan simulasi berdasarkan suku bunga KUR terbaru. Angka final dapat berbeda setelah memperhitungkan biaya administrasi dan asuransi yang disesuaikan kebijakan kantor cabang.
Sebagian besar debitur UMKM memilih tenor 36 hingga 60 bulan. Alasannya, nilai cicilan yang lebih ringan membantu arus kas usaha tetap stabil, terutama di tengah fluktuasi harga bahan baku.
Namun, tenor pendek tetap punya peminat. Pelaku usaha yang sudah punya omzet stabil biasanya mengambil tenor 12-24 bulan agar beban bunga total lebih kecil. Keputusan ini bergantung pada proyeksi pendapatan usaha masing-masing.
Pengajuan KUR BRI dapat dilakukan melalui dua jalur: datang langsung ke kantor BRI terdekat atau memanfaatkan aplikasi BRImo untuk proses awal. Calon debitur disarankan menyiapkan dokumen dasar seperti KTP, Kartu Keluarga, dan surat izin usaha.
Untuk pinjaman di atas Rp 50 juta, biasanya diperlukan dokumen tambahan seperti laporan keuangan sederhana atau bukti transaksi usaha. BRI juga membuka layanan konsultasi gratis bagi calon debitur yang masih ragu menentukan tenor.
Calon debitur wajib membaca dengan teliti skema bunga efektif yang berlaku. Jangan hanya fokus pada nominal cicilan bulanan, tetapi pahami juga total kewajiban yang harus dibayar hingga akhir tenor.
Pastikan juga status usaha sudah berjalan minimal enam bulan. BRI memiliki mekanisme verifikasi lapangan untuk memastikan usaha benar-benar produktif, bukan sekadar konsumtif. Kejujuran data menjadi kunci agar proses persetujuan berjalan lancar.