PW ISMI Sumut Ziarah ke Makam Ulama dan Sultan Deli di Medan, Napak Tilas Tiga Pilar Peradaban Melayu

Penulis: Zulfahmi Rasyid  •  Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:34:01 WIB
Pengurus PW ISMI Sumut berziarah ke kompleks pemakaman Masjid Raya Al-Mashun, Medan, sebagai bagian dari napak tilas peradaban Melayu.

MEDAN — Rombongan PW ISMI Sumut memulai napak tilas dari kompleks pemakaman Masjid Raya Al-Mashun, Medan. Lokasi ini menjadi sak Bisnis tempat bersemayamnya sejumlah tokoh kunci peradaban Melayu Sumatera Utara, dari ulama besar hingga mantan gubernur.

Ketua PW ISMI Sumut, Prof. Dr. Nispul Khoiri, M.Ag, menegaskan ziarah ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia menyebut kegiatan ini sebagai ruang refleksi untuk membaca ulang peran tokoh terdahulu dalam membangun peradaban daerah.

"ISMI ingin memastikan bahwa warisan intelektual dan sejarah ini tidak berhenti sebagai cerita, tetapi menjadi inspirasi gerakan keilmuan hari ini," ujar Nispul yang juga Guru Besar UINSU Medan ini.

Syekh Hasan Maksum dan Kaitan Erat Ulama dengan Kesultanan

Di kompleks Masjid Raya Al-Mashun, rombongan pertama-tama berziarah ke makam Syekh Hasan Maksum. Ulama besar ini dikenal sebagai Mufti dan Qadhi pada masa Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, sosok penting dalam perkembangan pendidikan dan keislaman di Sumatera Timur. Syekh Hasan Maksum wafat pada 7 Januari 1937.

Menurut Nispul, keberadaan Syekh Hasan Maksum menjadi bukti kuatnya hubungan antara otoritas keagamaan dan kekuasaan Kesultanan Deli. "Ini bukti bahwa tradisi keilmuan dan kekuasaan pada masa itu berjalan beriringan dalam membentuk peradaban," ujarnya.

Deretan Makam Sultan Deli hingga Mantan Gubernur Sumut

Dari makam ulama, rombongan melanjutkan ziarah ke kompleks makam Sultan IX hingga XIII Kesultanan Deli. Mereka berziarah ke makam Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, Sultan Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah, Sultan Osman Al Sani Perkasa Alamsyah, Sultan Azmy Perkasa Alam, dan Sultan Otteman Mahmud Perkasa Alam yang berada dalam satu kompleks.

Masih di kawasan yang sama, PW ISMI Sumut juga mendoakan mantan Gubernur Sumatera Utara Haji Tengku Rizal Nurdin beserta orang tuanya, Tengku Nurdin dan Tengku Rafiah. Keluarga ini dinilai memiliki peran penting dalam sejarah kepemimpinan Sumatera Utara, khususnya dalam menjembatani tradisi Melayu dengan pemerintahan modern.

Sekretaris PW ISMI Sumut, Ismail Marzuki, menyebut nilai keteladanan dari para tokoh tersebut adalah bagian penting yang harus diwariskan. "Pengabdian dan kepemimpinan mereka adalah bagian dari sejarah yang harus terus diingat," katanya.

Menelusuri Jejak Intelektual Tengku Luckman Sinar di Perbaungan

Rangkaian napak tilas kemudian bergeser ke Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai. Di sini, rombongan berziarah ke makam Tengku Luckman Sinar, sejarawan dan budayawan Melayu Sumatera Timur yang karya-karyanya menjadi rujukan penting dalam kajian sejarah dan kebudayaan Melayu, termasuk tentang Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang.

Wakil Ketua PW ISMI Sumut, Dr. Irwansyah, SH, MH, menekankan bahwa warisan intelektual Tengku Luckman Sinar menunjukkan pentingnya dokumentasi sejarah. "Beliau bukan hanya bangsawan, tetapi juga intelektual yang mewariskan pengetahuan sejarah yang sangat berharga," ujarnya.

Ziarah ini juga diikuti sejumlah pengurus lain, di antaranya Dr. Taufik Hidayah Tanjung, Dr. Ismahani, Tengku M. Iqbal Bustamam, Khairul Hafas, Fakhrur Rozi, dan Azizah Hanum.

Secara keseluruhan, PW ISMI Sumut menilai rangkaian ziarah ini memperlihatkan kesinambungan peran tokoh Melayu dari masa ke masa. Nispul menyebut tokoh-tokoh yang diziarahi merepresentasikan tiga pilar penting Melayu Sumatera Utara, yakni keilmuan, kepemimpinan, dan kebudayaan.

"Ini adalah warisan besar yang harus kita teruskan dalam bentuk kontribusi intelektual untuk bangsa. PW ISMI Sumut berharap nilai-nilai perjuangan, keilmuan, dan pengabdian para tokoh Melayu dapat terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya," pungkas Nispul.

Reporter: Zulfahmi Rasyid
Sumber: kaldera.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top